Jagung, Produk Pertanian yang Berpotensi Menjadi Andalan Nusantara

Posted on: Agustus 8, 2019, by :

Peningkatan jumlah populasi manusia berbanding lurus dengan kebutuhan akan hasil pertanian, terutama Negara Indonesia yang memiliki potensi pertanian sangat luas, beragam & melimpah. Hal ini merupakan peluang Agribisnis yang sangat menjanjikan. Salah satu komoditas pertanian yang saat ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah jagung. Jagung adalah salah satu tanaman pangan sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok dan juga pakan ternak. Jagung merupakan komoditas yang prospektif setelah padi. Hal tersebut dikarenakan jagung dapat dimanfaatkan pada berbagai macam bidang, seperti bahan pangan langsung, pakan ternak, dan bahan baku industri lainnya.

Menurut petani, terdapat 3 faktor utama yang mengapa budidaya jagung dianggap menguntungkan, yaitu:

1.  Budidaya yang mudah

Cara penanaman jagung relatif jauh lebih mudah dibandingkan dengan tanaman lain. Secara umum, jagung manis sangat cocok ditanam di dataran rendah dengan suhu antara 21-32°C dan pH 6-7. Pada kondisi lahan selain itu, perlu dilakukan perlakuan khusus untuk dapat membudidayakan jagung.

2.  Pangsa pasar luas

Jagung merupakan produk pertanian yang kebutuhannya sangat besar oleh banyak Industri, khususnya Industri pakan ternak.

3.  Masa panen yang singkat

Petani jagung juga memperoleh keuntungan berupa masa panen yang sangat singkat. Untuk mendapatkan hasil panen jagung, hanya diperlukan waktu sekitar 3-4 bulan. Apabila akan dilakukan penanaman penuh dalam setahun, dapat diperoleh 3 sampai 4 kali masa panen.

Menurut Badan Ketahanan Pangan, Kebutuhan total penggunaan jagung di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 23,25 juta ton. Jumlah konsumsi jagung tersebut diperoleh dari 11,1 juta ton jagung yang digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak, 5,93 juta ton untuk industri makanan, 4,2 juta ton untuk bahan baku ternak, 405 ribu ton untuk konsumsi rumah tangga, dan 1,5 juta ton untuk kebutuhan jagung dibidang lain. Kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan akan naik sebesar 16% menjadi 26,97 juta ton.

Menurut Kementerian Pertanian pada tahun 2018, produksi jagung Indonesia mencapai 29,93 juta ton pipilan kering. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 7,08%, dimana Indonesia menghasilkan jagung sebesar 27,95 juta ton pada tahun 2017. Hampir setengah kebutuhan jagung diperoleh dari Pulau Jawa. Jawa Tengah (15%), Jawa Timur (27,7%), dan Jawa Barat (5,7%) berkontribusi sebesar 48,4% terhadap kebutuhan jagung nasional. Sedangkan produksi jagung terbesar diluar Pulau Jawa adalah Lampung (8,4%), Sulawesi Selatan (8,4%), dan Sumatera Utara (6,6%).

Berdasarkan data hasil produksi (29,93 juta ton) dan kebutuhan jagung di Indonesia (23,25 juta ton) pada tahun 2018, terdapat surplus 6,68 juta ton. Surplus tersebut digunakan untuk diekspor ke beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia. Produksi jagung nasional periode 2018-2021 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan hingga 3,97%/tahun. Sementara konsumsi dan kebutuhan bibit meningkat hingga 6.09%/tahun. Oleh karena itu, surplus produksi jagung akan terus terjadi hingga tahun 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *